Ibu
rumah tangga, tak banyak wanita yang kini ingin menjadi seorang ibu rumah
tangga. Bahkan anak-anak sekarang, ketika ditanya mengenai cita-cita mereka,
tak ada yang bercita-cita ingin menjadi ibu rumah tangga. Sering kali, orang
memandang sebelah mata profesi ini.Padahal, profesi ibu rumah tangga sangat
mulia. Dan dari profesi ibu rumah tangga inilah, lahir profesi-profesi yang
lain.
Thursday, November 8, 2012
Budayaku, Kepribadianku
Apa itu budaya ?
Budaya
merupakan hasil cipta, karsa, dan rasa manusia. Budaya lahir dari hasil pemikiran
atau pun kebiasaan individu maupun kelompok. Kemudian hasil pemikiran tersebut disepakati
bersama oleh suatu masyarakat tertentu, sehingga budaya tersebut menjadi milik masyarakat. Dalam buku Sosiologi Komunikasi
karangan Prof. Burhan Bungin disebutkan bahwa budaya adalah produk dari seluruh
rangkain proses sosial yang dijalankan oleh manusia dalam masyarakat dengan
segala aktivitasnya. Kata budaya sendiri berasal dari bahasa sanskerta
“buddhayah” yang merupakan jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal.
BAGUS TAK MAU MENJADI GAYUS
Akhir-akhir
ini, Bagus sangat suka main internet. Maklum, seperti kebanyakan remaja, Bagus
pun juga sedang asik-asiknya mencari teman melalui dunia mya. Dia tidak mau
dibilang gaptek dan kuper. Namun sayangnya, di rumah ia tidak memiliki lapatop
atau pun computer yang terhubung dengan internet. Hand phone yang dia miliki
pun masih model lama. Itu pun dipakai bersama.
Bagas
memang bukan anak orang yang berada. Dia sulung dari tiga bersaudara. Ibunya
hanya seorang ibu rumah tangga. Sedangkan ayahnya hanya seorang tukang tambal
ban. Terkadang ibunya turut membantu mencari nafkah dengan menjual gorengan. Meski bukan orang
yang berada, kedua orang tuanya berusaha untuk mencukupi kebutuhan anak-anak
mereka sekolah. Begitu pula bagi Bagas. Selama untuk keperluan sekolah, orang
tuanya akan selalu megusahakan. Karena mereka ingin anak-anak mereka menjadi
orang yang berhasil.
Hal
tersebut terkadang dimanfaatkan Bagas. Sering ia meminta uang pada orang tuanya
dengan alasan mengerjakan tugas. Padahal uang tersebu ia gunakan untuk main
internet maupun game online. Pernah suatu ketika ibunya mengeluhkan hal
tersebut.
“Kakak
sekarang kok sering minta uang sih ? memangnya dapat tugas apa aja kak?”
“Iya
Bu, dan tugasnya itu harus mencari di internet,” jawab Bagas bohong.
“Apa
di buku nggak ada Kak?”
“Ada
sih bu, tapi gak lengkap.”
Ibunya
hanya mengangguk mendengar jawaban Bagas. Kadang Bagas pun tak tega. Tapi kalau
sudah berhadapan dengan internet, perasaan kasihan kepada orang tunya menghilang
begitu saja. Karena kebiasaan barunya itu, Bagas pun kini jarang membantu
ibunya berjualan gorenga. Ia pun juga lupa waktunya belajar. Setiap kali
diminta untuk belajar, ia selalu beralasan sudah belajar melalui internet.
Suatu
hari, pada mata pelajaran Kewarganegaraan, Bu Rahma meerangkan tentang korupsi.
“Saat
ini di Negara kita perilaku korupsi begitu merajalela,” kata Bu Rahma mengawali
penjelasannya.
“Korupsi
itu mengambil uang Negara untuk keperluan pribadinya kan Bu?” tana Najwa.
“Betul
sekali sayang. Dan uang negara itu berasal dari rakyat. Rakyat yang miskin
menjadi bertambah miskin. Sedangkan para pemimpin semakin bertambah kaya. Orang
yang melakukan korupsi disebut sebagai koruptor. Dan koruptor sama denagn
pencuri”
“Tapi
kan mereka sudah banyak yang tertangkap Bu?” Tanya Bagas.
“Memang,
tapi masih banyak pula yang belum tertangkap. Dan sebenarnya kita ini pun juga
koruptor loh.”
“Loh,
kok bisa Bu, kita kan tidak mengambil uang rakyat?” Tanya Bagas tak mengerti.
“Memang.
Tapi perbuatan kita juga berpotensi menjadi koruptor. Misalnya saja, kita
membuang waktu untuk hal yang tidak berguna. Waktunya belajar kita gunakan
untuk bermain. Itu namanya kita sudah mengkorupsi waktu. Atau kalian minta uang
kepada orang tua kalian dengan alasan mengerjakan tugas padahal uang tersebut
kalian gunkaan untuk jajan. Nah itulah sebabnya kita juga berpotensi menjadi
koruptor.”
“Wah
kalau begitu kita pun jadi gayus dong Bu,” celetuk Abid. Bu Rhhma hanya
tersenyum.
“Kalau
kalian tidak ingin menjadi Gayusdan ingin Negara kita lebih baik, maka sebagai
calon pemimpin Negara ini, mulai hari ini kalian harus menghindari perilaku
korupsi dan berperilaku jujur,” jelas Bu Rahma.
Penjelasan
Bu Rahma membuat Bagas tersadar bahwa selama ini ia telah menjadi koruptor. Ia
sudah membuat keadaan orang tuanya yang susah menjadi bertabah susah. “Nanti di
rumah aku harus minta maaf kepada ayah dan ibu. Dan berjanji tidak akan
mengulanginya lagi. Aku tak mau menjadi gayus. Aku ngin menjadi presiden yang
jujur agar negaraku maju,” janji Bagas dalam hati.
Begitu
tiba di rumah, Bagas segera menemui orang tuannya dan meminta maaf atas
sikapnya.
“Iya
sayang, Ibu dan Ayah memaafkan kamu. Tapi kamu harus berjanji tidak akan
mengulanginya lagi,” kata Ayah bijaksana.
“Iya
ayah, mulai hari ini Bagas juga akan membantu ayah dan ibu lagi. Bagas juga
tidak akan lupa belajar lagi. Bagas gak mau menjadi Gayus dan pemimpin kita
yang korup. Bagas ingin menjadi presiden yang jujur agar Negara kita lebih
baik.”
“Amin…Ibu
dan ayah akan selalu mendo’akan yang terbaik untu kamu, Nak, “ kata Ibu sambil
memeluk Bagas.
Semenjak
hari itu, Bagas menjadi anak yang jujur. Ia juga blajar displin dalam segala
hal. Saat kelas VIII, Bagas dipilih teman-temannya sebagai ketua kelas. Bagas
senang sekali. Ini sebagai latihan untuk dia sebelum menjadi presiden yang
sebenarnya.
(cerpen ini aku ikutkan dalam lomba hari anak nasional yang diadain writing revolution, belom menang sih tapi lumayan uda masuk 38 besar sari 300.an peserta)
DENGAN PUNK, AKU MENEMUKAN DIRIKU
Matahari
mulai terasa menghangatkan tubuh. Dengan sedikit mengerjap, membiasakan mataku
dengan sinarnya, aku memaksakan diri untuk bangun. Masih terasa berat mata dan
kepalaku, sisa dari mabuk semalam. Tapi aku harus menyingkir dari sini, mencari
tempat yang sedikit teduh, untuk meneruskan mimpiku. Dan sepertinya ketiga
temanku juga merasakan hal yang sama denganku. Seolah kita memiliki indera
keenam yang bisa membaca pikiran masing-masing. Bersama kita menuju sebuah
warkop, tempat kita biasa menghabiskan waktu bersama.
Sayangnya,
bunyi perutku mengalahkan rasa kantuk. Yah...perutku
sudah meminta jatah. “Uang sisa ngamen semalem masih ada gak?” tanyaku kepada
ketiga temanku.
“Uda
abis, buat beli minuman semalem. Nih, masih ada sisa rokok semalem, lumayan
bisa buat nahan laper. Entar siang baru kita ngamne lagi,” jawab temenku.
Yah,
beginilah kami. Hidup di jalanan, tidur, makan, dan menghabiskan waktu kami di
jalan. Bangun tidut kami langsung ngamne. Mengamen adalah cara untuk mencari uang.
Tak jarang kami “malak” anak-anak sekolah yang sedang nongkrong di “kerajaan”
kami. Uang tersebut kmai gunakan untuk memenuhi kebutuhan kami, makan, rokok,
sering pula untuk membeli miras atau pun “jajan”.
Orang
awam menyebut kami anak jalanan. Banyak pula yang memanggil kami berandalan. Dalam
komunitas punk sendiri, kita disebut street punk. Tapi apapun sebutannya untuk
kami, kami tak peduli. Bodoh amat dengan segala julukan yang mereka berikan,
tak peduli denga segala cibiran dan ejekan mereka. Kami pun tak peduli dengan
norma, peraturan, politik, pemerintah, dan semacamnya. Persetan dengan itu
semua.
Bagi
kami, punk adalah hidup kami, dunia kami, dan identitas kami. Kami benar-benar
tidak peduli dengan dunia dan orang-orangnya. Selagi mereka tidak mencari
masalah dengan kami, kami tak peduli dengan orang-orang itu. Kami hanya peduli
dengan perut kami dan teman-teman kami. Bagi kami, teman adalah harta berharga
kami, merekalah keluarga kami.
Aku
pun merasakan hal yang sama. Sejak kedua orang tuaku becerai, aku tak lagi
merasakan hangatnya keluarga. Aku kesepian dan bosan. Apalgi dengan segala
aturan yang diterapkan oleh ayahku, aturan sekolah, aturan masyarakat, dan
segala tetek bengek semacamnya. Aku merasa dipenjara, hidup tak bebas, dan
terkekang. Aku tak lagi bisa mengekspresikan diriku tapi aku juga tak
mendapatkan hak-hakku. Mereka semua hanya bisa menuntutku untuk melakukan
kewajiban dan mematuhi semua aturan. Tapi tak ada penghargaan dari apa yang aku
lakukan.
Semua
kekecewaan dan kebosanan itulah yang mengantarkan aku ke sini, ke komunitas
punk. Karena disinilah, aku menemukan apa yang selama ini aku cari dan aku
mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku memiliki teman-temna yang peduli kepadaku,
menganggap aku keluarga mereka sendiri. Ibaratnya satu untuk smeua, semua untuk
satu. Bersama mereka pula, aku bebas mengekspresikan diriku, terlepas dari
segala kewajibanku, dan keluar dari segala peraturan yang selama ini
mengikatku.
Tapi
jangan berharap awal aku di sini, aku bisa diterima dengan mudah. Ada “ritual”
yang harus aku lakukan untuk bisa diterima komunitas ini. Yang pertama,
tentunya aku harus sama dengan mereka. Penampilanku, cara bergaulku harus sama
dengan mereka. Setelah itu aku harus menghadapi ujian hidup di jalan. Tidur di
jalanan, makan makanan basi atau pun sampah, dan merelakan hartaku dipakai
bersama. Terakhir aku harus mengikuti ujian kesetiakawanan. Setelah aku lulus
semua peraturan mereka, maka aku biasa diterima menjadi komunitas mereka. Seandainya
aku gagal, entah apa yang akan terjadi padaku.
Oh
ya, kami juga anti dengan punk-punk lain. Meski menurut orang lain kita sama,
tapi bagi kami antar punk pun juga berbeda. Kami hanya peduli dengan kelompok
kami, anggota kami. Kami tak peduli dengan anggota kelompok punk lain. Jika mereka
bermacam-macam dengan daerah kekuasaan kami, mereka pun akan kami perangi. Hanya
pada acara tertentu saja, kami para punk, dapat bedamai. Misalnya saja ketika
menonton konser.
Meski
begitu, aku senang bergabung dengan mereka dan menghabiskan waktu bersama
mereka. Bagiku, bersama mereka jauh lebih nyaman dibandingkan dengan
orang-orang yang mengaku keluargaku. Bersama mereka aku merasa waras
dibandingkan dengan orang-orang yang mengaku mereka “waras dan normal”. Dan bersama
anak-anak punk inilah, aku menemukan siapa aku sebenarnya.
Wednesday, February 1, 2012
UNAS CURANG, SALAH SIAPA?
Doni :
“Ngerjain unas ternyata gak sesulit yang aku bayangin. Kalau gini aku yakin
bias dapat nilai 8, bahkan 9.”
Dino : “Ah,
yakin betul kamu.”
Doni : “iya
dong, kan yang ngerjain guruku. Aku cuma tinggal mindah jawabannya ke lembar
jawaban. Jadi aku yakin jawaban yang aku tulis 99% benar”
Dino : “Wah
asik banget kamu dikasi bocoran ma sekolahanmu.”
Doni : “Loh
emangnya kamu enggak?”
Dino :
“Sekolahku gak mau ambil resiko. Jadi mereka minta kita buat ngerjain sendiri.
Tapi untungnya aku ikut bimbingan di LBB, jadi tutorku yang kirim jawaban.
Malah untuk ujian kimia yang hari terakhir, aku uda punya jawabannya.”
Doni : “Wah
asik banget, bagi dong. Entar kita cocokin jawaban dari tutormu ma jawaban dari
guruku.”
Dino : “Boleh
juga. Tak ada jawaban dari sekolah, dari LBB pun boleh juga.”
DEPRESI
Aku lelah berlari
Aku letih bersembunyi
Aku ingin pergi
Dari hidupku kini
Saat ini semakin sia-sia
Masa depan pun kian percuma
Aku hanya ingin masa lalu
Yang telah kubiarkan berlalu
Tak adakah jalan pulang untukku
Tak adakah tempat kembali bagiku
Tak adakah rumah tuk tempatku singgah
Karena aku begitu lelah
Teramat sangat lelah
(capink, curhat, 28012012)
Aku letih bersembunyi
Aku ingin pergi
Dari hidupku kini
Saat ini semakin sia-sia
Masa depan pun kian percuma
Aku hanya ingin masa lalu
Yang telah kubiarkan berlalu
Tak adakah jalan pulang untukku
Tak adakah tempat kembali bagiku
Tak adakah rumah tuk tempatku singgah
Karena aku begitu lelah
Teramat sangat lelah
(capink, curhat, 28012012)
SANGKARKU
Aku semakin terkungkung
dalam sangkar yang kian mengurung
Aku semakin terjebak
dalam dunia yang kian terbatas
Membuatku buta akan warna dunia
Menjadikanku tuli akan hingar bingar dunia
Asaku terhenti dalam kabut
Khayalku mati dalam beku
Otakku pun buntu seiring berjalannya waktu
Akankah ini kan berlanjut
Dan buatku semakin takut
Masihkah ini kan menghimpit
Dan buatku kian terjepit
(pengasinganku, fpg, 07012012)
Subscribe to:
Posts (Atom)